Translate

frist dedication

frist dedication
perawat

Senin, 14 April 2014


2.4. Toileting training
A. Pengertian Toilet Training
Toilet Training pada anak adalah latihan menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas  buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya (toilet).
B. Keuntungan dilakukan Toilet Training
Kemandirian
Toilet Training juga dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar
Mengetahui bagian-bagian tubuh dan fungsinya
Toilet Training bermanfaat pada anak sebab anak dapat mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya ( anatomi ) tubuhnya. Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar.
C. Factor-faktor yang mendukung Toilet Training pada anak
1.      Kesiapan Fisik
    1. Usia telah mencapai 18-24 bulan
    2. Dapat jongkok kurang dari 2 jam
    3. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan
    4. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian
2.      Kesiapan Mental
·         Mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi
·         Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih
·         Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain
3.      Kesiapan Psikologis
                                                                                i.            Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
                                                                              ii.            Mempunyai rasa ingin tahu dan penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB
                                                                            iii.            Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti
4.      Kesiapan Anak
                                                                                i.            Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi
                                                                              ii.            Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya
                                                                            iii.            Tidak mengalami koflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (Perceraian)
D. Usia yang tepat dilakukan Toilet Training
Toilet Training dapat berlangsung pada usia 1-3 tahun atau usia balita, sebab kemampuan spingter ani unytuk mengontrol rasa ingin devekasi telah berfungsi. Namun setiao anak kemampuanya berbeda tergantung factor fisisk dan psikologisnya
E. Cara-cara melakukan Toilet Training
1. Teknik lisan
Usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum dan sesudah buang air kecil dan buang air besar. Cara ini bener dilakukan oleh orang tua dan mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil dan buang air besar. Dimana kesiapan psikologis anak akan semakin matnag sehingga anak mampu melakukan buang air kecil dan buang air besar
1.        Teknik modeling
Usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan cara memberikan contoh dan anak menirukannya. Cara ini juga dapat dilakukan dengan membiasakan anak uang bair kecil dan buang air besar dengan cara mengajaknya ke toilet dan memberikan pispot dalam keadaan yang aman. Namun dalam memberikan contoh orang tua harus melakukannya secara benar dan mengobservasi waktu memberikan contoh toilet training dan memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak gagal dalam melakukan toilet training.
F. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama Toilet Training
  1. Hindari pemakain popok sekali pakai
  2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar
  3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur
  4. Jangan marah bila anak dalam melakukan toilet training
G. Tanda anak siap untuk melakukan Toilet Training
  1. Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal 3-4 jam
  2. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol
  3. Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan menggunakan kata-kata pup
  4. Sudah mampu member tahu bila celana atau popok sekali pakainya sugah basah dan kotor
  5. Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara memegang alat kelamin atau minta ke kamar mandi
  6. Bias memakai dan melepas celana sendiri
  7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah meringis, merah atau jongkok saat merasa BAB dan BAK
  8. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi seperti kebiasaan orang sekitarnya
  9. Minta diajari menggunakan toilet
  10. Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu
 
2.5. Konsep Imunisasi

A. Pengertian imunisasi dasar pada anak

     Imunisasi adalah upaya yg dilakukan dgn sengaja memberikan kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit dengan memasukan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah penyakit tertentu.
 
 B. Tujuan Imunisasi
 
Agar tubuh kebal terhadap penyakit tertentu. Yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
·         Tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi
·         Potensi antigen yang disuntikkan
 
C. Jenis-jenis imunisasi
1. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen  yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologis spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan humoral serta dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat  merespon.
 
1.      Imunisasi Pasif
Merupakan pemberian zat yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
 
Imunisasi ini diberikan pada balita yang antara lain mencangkup :
1.      Imunisasi BCG
Imunisasi BCG (Balcilius Calmette Tetanus) Imunisasi ini diberikan pada usia 0 sampai dengan 11 bulan dan hanya diberikan satu kali untuk mencegah agar tidak terserang penyakit TBC
2.      Imunisasi DPT
Imunisasi DPT (Depteri Pertusis Tetanus) Imunisasi ini di berikan kepada balita usia 2 sampai 11 bulan, dan diberikan sebanyak 3 kali berturut turut dengan selang waktu minimal 4 Minggu. Imunisasi ini bertjuan untuk mencengah penyakit Depteri, Pertusis, dan Tetanus.

3.      Imunisasi Polio


Imunisasi Polio diberikan pada anak usia 2 sampai 11 bulan dan diberikan secara berturut-turut dengan selang waktu selama 4 Minggu. Jenis Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya penyakit Polio.

4.      Imunisasi Campak


Imunisasi Campak diberikan pada usia 9 sampai 11 bulan dan hanya diberikan satu kali. Imunisasi campak bertjuan mencegah terjadinya penyakit campak.

Imunisasi Ulang

1.      Imunisasi DT
Imunisasi DT (Depteri Tetanus) dibirikan pada anak sekolah yang duduk dikelas satu dan biasanya diberikan sebanyak 2 kali secara berturut turut dengan tenggang waktu 4 Minggu
2.      Imunisasi TT
Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) diberikan pada anak sekolah yang duduk di kelas enam, khusunya bagi wanita, dan biasnya diberikan sebanyak 2 kali secara berkala.
D. Cara pemberian imunisasi
BCG (Bacillus Calmatte Guerin)
·         Dosis pemberian 1 kali pada usia 0-1 bulan.
·         Setelah penyuntikan imunisasi ini, akan timbul bebjolan putih pada lengan bekas suntikan yang akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan.
DPT + Hb (Kombo)
·         Dosis pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan.
·         Anak akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang diimunisasi. Beri obat penurun panas ¼ tablet dan jangan membungkus bayi dengan selimut tebal.
Polio

·         Dosis pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada usia 0-11 bulan
·         Setelah imunisasi, tidak ada efek samping. Jika anak menderita kelumpuhan setelah imunisasi polio, kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio.
·          
Campak

·         Dosis pemberian 1 kali pada usia 9 bulan.
·         Setelah 1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan muncul kemerahan. Cukup beri ¼ tablet penurun panas.
E.feksampingdan penataklasanaan

BCG
Pembengkakan kelenjar regional menjadi pecah; ulkus, luka dibiarkan (tidak perlu diinsisiataupun kompres).

DPT
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi DPT adalah sebagai berikut:1. Demam ringan berikan kompres dan anti piretik,2. Rasa sakit di daerah suntikan (1-2) hari kapan perlu berikan analgetik,3. Jarang demam tinggi atau kejang,4. Penanganan kejang positif, berikan anti convulsan.

Polio
Efek samping imunisasi polio adalah sebagai berikut :1. Sangat jarang; bila terjadi kelumpuhan ekstremitas segera konsul,2. Diare,3. Dehidrasi (tergantung derajat diare, biasanya hanya diare ringan).

Hepatitis B
Tidak ada efek sampingnya.

Campak
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi campak adalah sebagai berikut :1. Demam ringan berikan kompres dan obat antipiretik,2. Nampak sedikit bercak merah pada pipi dan bawah telinga pada hari 7-8 setelah penyuntikantidak berbahaya lakukan observasi.(Dick. George, 1992 : 37)


 

 

 

 



 


DAFTAR PUSTAKA


 

 

1.      Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta; Salemba Mesika. Hal : 8-23

2.      Rukiyah, Ai Yeyeh.2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta; Trans Info Media. Hal : 106-123

  1. Engel, joyce. (1998). Pengkajian Pediatrik, Alih Bahasa Teresa, Jakarta : EGC
  2. Beth cecily L, sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC.
  3. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC
  4. Markum, A.H. (1991). Buku Ajar Anak. Jilid I, Jakarta : Fakultas Kedokteran  Universitas Indonesia.
  5. Soetjingsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak, jakarta : EGC
  6. Suherman ( 1999 ). Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar