2.4.
Toileting training
A. Pengertian Toilet Training
Toilet Training pada anak adalah
latihan menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas buang air kecil
dan buang air besar pada tempatnya (toilet).
B. Keuntungan dilakukan Toilet Training
Kemandirian
Toilet Training juga dapat menjadi awal
terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk
melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar
Mengetahui bagian-bagian tubuh dan
fungsinya
Toilet Training bermanfaat pada anak
sebab anak dapat mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya ( anatomi )
tubuhnya. Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau
rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air
besar.
C. Factor-faktor yang mendukung Toilet
Training pada anak
1.
Kesiapan Fisik
- Usia telah mencapai 18-24 bulan
- Dapat jongkok kurang dari 2 jam
- Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan
berjalan
- Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka
celana dan pakaian
2.
Kesiapan Mental
·
Mengenal rasa ingin berkemih dan
devekasi
·
Komunikasi secara verbal dan nonverbal
jika merasa ingin berkemih
·
Keterampilan kognitif untuk mengikuti
perintah dan meniru perilaku orang lain
3.
Kesiapan Psikologis
i.
Dapat jongkok dan berdiri ditoilet
selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
ii.
Mempunyai rasa ingin tahu dan
penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB
iii.
Merasa tidak betah dengan kondisi basah
dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti
4.
Kesiapan Anak
i.
Mengenal tingkat kesiapan anak untuk
berkemih dan devekasi
ii.
Ada keinginan untuk meluangkan waktu
untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya
iii.
Tidak mengalami koflik tertentu atau
stress keluarga yang berarti (Perceraian)
D. Usia yang tepat dilakukan Toilet
Training
Toilet Training dapat berlangsung pada
usia 1-3 tahun atau usia balita, sebab kemampuan spingter ani unytuk mengontrol
rasa ingin devekasi telah berfungsi. Namun setiao anak kemampuanya berbeda
tergantung factor fisisk dan psikologisnya
E. Cara-cara melakukan Toilet Training
1. Teknik lisan
Usaha untuk melatih anak dengan cara
memberikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum dan sesudah buang air kecil
dan buang air besar. Cara ini bener dilakukan oleh orang tua dan mempunyai
nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil dan
buang air besar. Dimana kesiapan psikologis anak akan semakin matnag sehingga
anak mampu melakukan buang air kecil dan buang air besar
1.
Teknik modeling
Usaha untuk melatih anak dalam
melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan cara memberikan contoh dan
anak menirukannya. Cara ini juga dapat dilakukan dengan membiasakan anak uang
bair kecil dan buang air besar dengan cara mengajaknya ke toilet dan memberikan
pispot dalam keadaan yang aman. Namun dalam memberikan contoh orang tua harus
melakukannya secara benar dan mengobservasi waktu memberikan contoh toilet
training dan memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak
gagal dalam melakukan toilet training.
F. Hal-hal yang perlu diperhatikan
selama Toilet Training
- Hindari pemakain popok sekali pakai
- Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan
dengan buang air kecil dan buang air besar
- Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar
mandi seperti cuci tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat
bangun tidur
- Jangan marah bila anak dalam melakukan toilet
training
G. Tanda anak siap untuk melakukan
Toilet Training
- Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari
minimal 3-4 jam
- Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol
- Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan
menggunakan kata-kata pup
- Sudah mampu member tahu bila celana atau popok
sekali pakainya sugah basah dan kotor
- Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara
memegang alat kelamin atau minta ke kamar mandi
- Bias memakai dan melepas celana sendiri
- Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah
meringis, merah atau jongkok saat merasa BAB dan BAK
- Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi
seperti kebiasaan orang sekitarnya
- Minta diajari menggunakan toilet
- Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu
2.5. Konsep Imunisasi
A.
Pengertian imunisasi dasar pada anak
Imunisasi adalah upaya yg dilakukan dgn
sengaja memberikan kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar
dari penyakit dengan memasukan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti
untuk mencegah penyakit tertentu.
B. Tujuan Imunisasi
Agar tubuh kebal
terhadap penyakit tertentu. Yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
:
·
Tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan
imunisasi
·
Potensi antigen yang disuntikkan
C. Jenis-jenis imunisasi
1.
Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen
yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh
mengalami reaksi imunologis spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan
humoral serta dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi
infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespon.
1.
Imunisasi
Pasif
Merupakan pemberian zat yaitu
suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari
plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga
sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Imunisasi
ini diberikan pada balita yang antara lain mencangkup :
1.
Imunisasi
BCG
Imunisasi BCG (Balcilius Calmette Tetanus)
Imunisasi ini diberikan pada usia 0 sampai dengan 11 bulan dan hanya diberikan
satu kali untuk mencegah agar tidak terserang penyakit TBC
2.
Imunisasi
DPT
Imunisasi DPT (Depteri Pertusis Tetanus)
Imunisasi ini di berikan kepada balita usia 2 sampai 11 bulan, dan diberikan
sebanyak 3 kali berturut turut dengan selang waktu minimal 4 Minggu. Imunisasi
ini bertjuan untuk mencengah penyakit Depteri, Pertusis, dan Tetanus.
3.
Imunisasi Polio
Imunisasi Polio diberikan pada anak usia 2 sampai 11 bulan dan diberikan secara berturut-turut dengan selang waktu selama 4 Minggu. Jenis Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya penyakit Polio.
4. Imunisasi
Campak
Imunisasi Campak diberikan pada usia 9 sampai 11 bulan dan hanya diberikan satu kali. Imunisasi campak bertjuan mencegah terjadinya penyakit campak.
Imunisasi Ulang
1.
Imunisasi
DT
Imunisasi DT (Depteri Tetanus) dibirikan pada
anak sekolah yang duduk dikelas satu dan biasanya diberikan sebanyak 2 kali
secara berturut turut dengan tenggang waktu 4 Minggu
2.
Imunisasi
TT
Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) diberikan pada
anak sekolah yang duduk di kelas enam, khusunya bagi wanita, dan biasnya
diberikan sebanyak 2 kali secara berkala.
D. Cara pemberian imunisasi
BCG (Bacillus Calmatte Guerin)
·
Dosis
pemberian 1 kali pada usia 0-1 bulan.
·
Setelah
penyuntikan imunisasi ini, akan timbul bebjolan putih pada lengan bekas suntikan
yang akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan.
DPT + Hb (Kombo)
·
Dosis
pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan.
·
Anak
akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang diimunisasi. Beri obat penurun
panas ¼ tablet dan jangan membungkus bayi dengan selimut tebal.
Polio
·
Dosis
pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada usia 0-11 bulan
·
Setelah
imunisasi, tidak ada efek samping. Jika anak menderita kelumpuhan setelah
imunisasi polio, kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio.
·
Campak
·
Dosis
pemberian 1 kali pada usia 9 bulan.
·
Setelah
1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan muncul kemerahan. Cukup beri
¼ tablet penurun panas.
E.feksampingdan penataklasanaan
BCG
Pembengkakan kelenjar regional menjadi pecah; ulkus, luka dibiarkan (tidak perlu diinsisiataupun kompres).
DPT
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi DPT adalah sebagai berikut:1. Demam ringan berikan kompres dan anti piretik,2. Rasa sakit di daerah suntikan (1-2) hari kapan perlu berikan analgetik,3. Jarang demam tinggi atau kejang,4. Penanganan kejang positif, berikan anti convulsan.
Polio
Efek samping imunisasi polio adalah sebagai berikut :1. Sangat jarang; bila terjadi kelumpuhan ekstremitas segera konsul,2. Diare,3. Dehidrasi (tergantung derajat diare, biasanya hanya diare ringan).
Hepatitis B
Tidak ada efek sampingnya.
Campak
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi campak adalah sebagai berikut :1. Demam ringan berikan kompres dan obat antipiretik,2. Nampak sedikit bercak merah pada pipi dan bawah telinga pada hari 7-8 setelah penyuntikantidak berbahaya lakukan observasi.(Dick. George, 1992 : 37)
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Hidayat, A. Aziz Alimul.
2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta; Salemba
Mesika. Hal : 8-23
2.
Rukiyah, Ai Yeyeh.2010. Asuhan
Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta; Trans Info Media. Hal : 106-123
- Engel,
joyce. (1998). Pengkajian Pediatrik, Alih Bahasa Teresa, Jakarta : EGC
- Beth
cecily L, sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Jakarta
: EGC.
- Sacharin
Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F.
Jakarta : EGC
- Markum,
A.H. (1991). Buku Ajar Anak. Jilid I, Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- Soetjingsih.
(1995). Tumbuh Kembang Anak, jakarta : EGC
- Suherman
( 1999 ). Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar